Google Manifestasi Gelombang Seismik dalam rekaman Lapangan | Dark Wizard of Scientist Skip to main content

Manifestasi Gelombang Seismik dalam rekaman Lapangan

Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya adanya patahan atau adanya ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan dapat terekam oleh seismometer.
Efek yang ditimbulkan oleh adanya gelombang seismik dari gangguan alami (seperti: pergerakan lempeng (tektonik), bergeraknya patahan, aktivitas gunung api (vulkanik), dsb) adalah apa yang kita kenal sebagai fenomena gempa bumi.
Gelombang seismik digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu
1. Gelombang Badan (body wave)
2. Gelombang Permukaan (surface wave)
Mempelajari perilaku suatu gunung berapi sehingga didapatkan karakteristik dari gunung yang bersangkutan merupakan penelitian yang salah satunya dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem peringatan dini bencana alam (gunung berapi). Salah satu metode yang digunakan adalah dengan memanfaatkan data-data seismik gunung yang bersangkutan. Gelombang seismik ditimbulkan oleh suatu gangguan elastis yang merambat dari satu tempat (titik) ke tempat (titik) yang lain melalui suatu medium, yaitu bumi.
Secara alami, gelombang seismik dapat ditimbulkan karena adanya aktifitas kerak bumi (berupa pengangkatan, penurunan, tekanan atau pelipatan/patahan) dan aktifitas gunung berapi. Yang pertama dinamakan gelombang seismik tektonik (gempa bumi) sedangkan yang kedua dinamakan gelombang seismik volkanik. Piranti yang digunakan untuk merekam gelombang seismik dinamakan seismograf.
Data-data gelombang seismik yang telah terekam, kemudian diproses atau diolah untuk suatu tujuan atau kepentingan tertentu. Misalnya, dengan menggunakan rekaman data seismik gempa bumi (tektonik) dapat ditentukan pusat dan kedalaman gempa bumi yang bersangkutan. Sedangkan pada gunung berapi dapat digunakan untuk memperkirakan jenis aktivitas gunung berapi tersebut, seperti gerakan magma, guguran lava padat, gejala-gejala akan terjadinya letusan dan lain-lain.
Secara umum, tujuan utama dari pengukuran seismik adalah untuk memperoleh rekaman yang berkualitas baik. Kualitas rekaman seismik dapat dinilai dari perbandingan sinyal refleksi terhadap sinyal noise (S/N) yaitu perbandingan antara banyaknya sinyal refleksi yang direkam dibandingkan dengan sinyal noisenya dan keakuratan pengukuran waktu tempuh (travel time).
Eksplorasi seismik refleksi dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu eksplorasi prospek dangkal dan eksplorasi prospek dalam. Eksplorasi seismik dangkal (shallow seismik reflection) biasanya diaplikasikan untuk eksplorasi batubara dan bahan tambang lainnya. Sedangkan seismik dalam digunakan untuk eksplorasi daerah prospek hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Kedua kelompok ini tentu saja menuntut resolusi dan akurasi yang berbeda begitu pula dengan teknik lapangannya.
Menurut SANNY (1998), kualitas data seismik sangat ditentukan oleh kesesuaian antara parameter pengukuran lapangan yang digunakan dengan kondisi lapangan yang ada. Kondisi lapangan yang dimaksud adalah kondisi geologi dan kondisi daerah survei. Sebagai contoh, parameter lapangan untuk daerah batu gamping masif akan berbeda dengan parameter untuk daerah dengan litologi selang-seling antara lempung dan pasir. Di samping itu parameter lapangan yang harus disesuaikan adalah target eksplorasi yang ingin dicapai.

Rekaman Seismik (Seismic Record)


Rekaman seismik dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari tras seismik. Tras seismik adalah data seismik yang terekam oleh satu perekam (geophone). Tras seismik mencerminkan respon dari medan gelombang elastik terhadap kontras impedansi akustik (reflektivitas) pada batas lapisan batuan sediment yang satu dengan batuan sediment yang lain. 
Komponen sebuah gelombang (tras seismik) terdiri dari amplitudo, puncak, palung, zero crossing, tinggi dan panjang gelombang.
                         
Komponen sebuah gelombang
Komponen sebuah gelombang



Jika ditampilkan dalam penampang dua dimensi, ke arah lateral mencerminkan jarak atau lokasi dan ke arah vertical mencerminkan waktu (two way travel time/ TWT) atau kedalam (apabila telah di migrasi kedalaman / depth migration). TWT adalah waktu yang diperlukan oleh gelombang seismik untuk merambat dari sumber gelombang (dinamit, vibroseis, dll.) menuju reflektor (lapisan batuan dibawah permukaan bumi) kemudian kembali memantul ke penerima gelombang di permukaan bumi (receiver), dengan jarak sumber gelombang dengan penerima sama dengan nol (lokasi sumber-penerima sama).
Contoh rekaman seismik ditunjukkan pada gambar di bawah ini dengan batas antara lapisan-lapisan batuan diinterpretasi sebagai puncak maupun palung amplitudonya.
Contoh rekaman seismik
Contoh rekaman seismik


Aktifitas seismik dapat dipantau dengan menggunakan seismometer. Seismometer dapat mendeteksi gerakan tanah yang disebabkan oleh beberapa fenomena, termasuk angin, volcanic explosion, longsoran, lahar, dan gempa bumi. Setiap getaran tanah biasanya akan menghasilkan rekaman seismik yang unik. Sehingga dapat dikenali dan diidentifikasi sebagai peristiwa tertentu. Untuk mengidentifikasi suatu peristiwa dibutuhkan beberapa rekaman seismik sehingga dapat ditafsirkan lebih akurat. Kita dapat meningkatkan hasil tafsiran dengan cara membandingkan rekaman seismik dengan pengamatan langsung aktifitas gunung api tersebut.
Alat ini sangat sensitif terhadap gelombang seismik yang ditimbulkan karena gempa bumi, ledakan nuklir dan sumber gelombang seismik lainnya. hasil rekaman dari alat tersebut dinamakan seismogram. Prinsip kerja dari alat ini yaitu mengembangkan kerja dari bandul sederhana. ketika mendapatkan usikan atau gangguan dari luar seperti gelombang seismik maka bandul akan bergetar dan merekam datanya seperti grafik.
Pada bandul matematis, berat tali diabaikan dan panjang tali jauh lebih besar dari pada ukuran geometris dari bandul. Pada posisi setimbang, bandul berada pada titik A. Sedangkan pada titik B adalah kedudukan pada sudut di simpangan maksimum (θ). Kalau titik B adalah kedudukan dari simpangan maksimum, maka gerakan bandul dari B ke A lalu ke B’ dan kemudian kembali ke A dan lalu ke B lagi dinamakan satu ayunan. Waktu yang diperlukan untuk melakukan satu ayunan ini disebut periode (T).
Bandul Seismometer
Bandul Seismometer
Pada rekaman seismik (shot gathers), first break merupakan sinyal yang pertama kali terekam oleh penerima. Sinyal tersebut berasal dari direct wave dan head wave. Direct wave adalah gelombang yang merambat dari sumber langsung ke penerima melewati lapisan pertama, Sedangkan head wave adalah gelombang yang melewati lapisan pertama lalu merambat disepanjang lapisan kedua. Syarat terjadinya head wave adalah sudut tembak gelombang harus melewati critical angle dan lapisan kecepatan lapisan tersebut harus lebih cepat dari lapisan sebelumnya.
Dalam seismik, kita sering mendengar istilah wavelet. Wavelet adalah tubuh gelombang dari gelombang yang menjadi sumber dalam eksplorasi seismik refleksi. Ada dua properti penting dalam sebuah wavelet, yaitu polaritas dan fase.

Secara umum konvolusi didefinisikan sebagai cara untuk mengkombinasikan dua buah deret angka yang menghasilkan deret angka yang ketiga. Didalam dunia seismik deret-deret angka tersebut adalah wavelet sumber gelombang, reflektivitas bumi dan rekaman seismik.
                       
Proses pengambilan data Seismik
Proses pengambilan data Seismik

Secara umum, metode seismik refleksi terbagi atas tiga bagian penting yaitu pertama adalah akuisisi data seismik yaitu merupakan kegiatan untuk memperoleh data dari lapangan yang disurvei, kedua adalah pemrosesan data seismik sehingga dihasilkan penampang seismik yang mewakili daerah bawah permukaan yang siap untuk diinterpretasikan, dan yang ketiga adalah interpretasi data seismik untuk memperkirakan keadaan geologi di bawah permukaan dan bahkan juga untuk memperkirakan material batuan di bawah permukaan.

Gambar di bawah ini adalah arsitektur marine source signature dalam domain waktu dan domain frekuensi.
Arsitektur marine source signature
Arsitektur marine source signature

Akuisisi Data Seismik

Untuk memperoleh hasil pengukuran seismik refleksi yang baik, diperlukan pengetahuan tentang sistem perekaman dan parameter lapangan yang baik pula. Parameter akan sangat ditentukan oleh kondisi lapangan yang ada yaitu berupa kondisi geologi daerah survei. Teknik-teknik pengukuran seismik meliputi :

1. Sistem Perekaman Seismik

Tujuan utama akuisisi data seismik adalah untuk memperoleh pengukuran travel time dari sumber energi ke penerima. Keberhasilan akusisi data bisa bergantung pada jenis sumber energi yang dipilih. Sumber energi seismik dapat dibagi menjadi dua yaitu sumber impulsif dan vibrator. Sumber impulsif adalah sumber energi seismik dengan transfer energinya terjadi secara sangat cepat dan suara yang dihasilkan sangat kuat, singkat dan tajam. Sumber energi impulsif untuk akuisisi data seismik yang digunakan untuk akusisi data seismik di laut adalah air gun.
Sumber energi vibrator merupakan sumber energi dengan durasi beberapa detik. Panjang sinyal input dapat bervariasi. Gelombang outputnya berupa gelombang sinusoidal. Seismik refleksi resolusi tinggi menggunakan vibrator dengan frekuensi 125 Hz atau lebih.
Perekaman data seismik melibatkan detektor dan amplifier yang sangat sensistif serta magnetic tape recorder. Alat untuk menerima gelombang-gelombang refleksi untuk survei seismik di laut adalah hidropon. Hidropon merespon perubahan tekanan. Hidropon terdiri atas kristal piezoelektrik yang terdeformasi oleh perubahan tekanan air. Hal ini akan menghasilkan beda potensial output. Elemen piezoelektrik ditempatkan dalam suatu kabel streamer yang terisi oleh kerosin untuk mengapungkan dan insulasi. Model hidropon seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.

Penampang hidropon
Gambar 1. Penampang hidropon


Hampir semua data seismik direkam secara digital. Karena output dari hidropon sangat lemah dan output amplitude decay dalam waktu yang sangat singkat, maka sinyal ini harus diperkuat. Amplifier bisa juga dilengkapi dengan filter untuk meredam frekuensi yang tidak diinginkan (SANNY, 2004).

2. Prosedur Operasional Seismik Laut

Kapal operasional seismik dilengkapi dengan bahan peledak, instrumen perekaman serta hidropon, dan alat untuk penentuan posisi tempat dilakukannya survey seismik seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2. Menurut KEARN & BOYD (1963), terdapat dua pola penembakan dalam operasi seismik di laut yaitu :
a) Profil Refleksi, pola ini memberikan informasi gelombang-gelombang seismik sebagai gelombang yang merambat secara vertikal melalui lapisan-lapisan di bawah permukaan. Teknik ini melakukan tembakan disepanjang daerah yang disurvei dengan kelajuan dan penembakan yang konstan. Jarak penembakan antara satu titik terhadap lainnya disesuaikan dengan informasi refleksi yang diperlukan, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.

Operasional seismik di laut
Gambar 2. Operasional seismik di laut



b) Profile Refraksi, Pola ini memberikan informasi gelombang-gelombang seismik yang merambat secara horizontal melalui lapisan-lapisan di bawah permukaan. Pada teknik ini kapal melakukan tembakan pada titik-titik tembak yang telah ditentukan (Gambar 3).
Diagram metode penembakan Refraksi (a) dan Refleksi (b)
Gambar 3. Diagram metode penembakan Refraksi (a) dan Refleksi (b)


Pengolahan Data Seismik

Tujuan dari pengolahan data seismik adalah untuk memperoleh gambaran yang mewakili lapisan-lapisan di bawah permukaan bumi. Tujuan utama pemrosesan data seismik menurut VAN DER KRUK (2001) adalah :
  1. untuk meningkatkan signal to noise ratio (S/N)
  2. untuk memperoleh resolusi yang lebih tinggi dengan mengadaptasikan bentuk gelombang sinyal
  3. mengisolasi sinyal-sinyal yang diinginkan (mengisolasi sinyal refleksi dari multiple dan gelombang-gelombang permukaan)
  4. untuk memperoleh gambaran yang realistik dengan koreksi geometri
  5. untuk memperoleh informasi-informasi mengenai bawah permukaan (kecepatan, reflektivitas, dll).

Secara garis besar urutan pengolahan data seismik menurut SANNY (2004) adalah sebagai berikut :

1. Field Tape

Data seismik direkam ke dalam pita magnetik dengan standar format tertantu. Standarisasi ini dilakukan oleh SEG (Society of Exploration Geophysics). Magnetic tape yang digunakan biasanya adalah tape dengan format: SEG-A, SEG-B, SEG-C, SEG-D, dan SEG-Y. Format data terdiri dari header dan amplitudo. Header berisi informasi mengenai survei, project dan parameter yang digunakan dan informasi mengenai data itu sendiri (Gambar 4).

2. Demultiplex

Data seismik yang tersimpan dalam format multiplex dalam pita magnetik lapangan sebelum diperoses terlebih dahulu harus diubah susunannya. Data yang tersusun berdasarkan urutan pencuplikan disusun kembali berdasarkan receiver atau channel (demultiplex). Proses ini dikenal dengan demultiplexing.

3. Gain Recovery

Akibat adanya penyerapan energi pada lapisan batuan yang kurang elastis dan efek divergensi sferis maka data amplitudo (energi gelombang) yang direkam mengalami penurunan sesuai dengan jarak yang ditempuh. Untuk menghilangkan efek ini maka perlu dilakukan pemulihan kembali energi yang hilang sedemikian rupa sehingga pada setiap titik seolah-olah datang dengan jumlah energi yang sama. Proses ini dikenal dengan istilah Automatic Gain Control (AGC) sehingga nantinya menghasilkan kenampakan data seismik yang lebih mudah diinterpretasi.

4. Editing dan Muting


Editing adalah proses untuk menghilangkan semua rekaman yang buruk, sedangkan mute adalah proses untuk menghilangkan sebagian rekaman yang diperkirakan sebagai sinyal gangguan seperti ground roll, first break dan lainnya yang dapat mengganggu data (Gambar 4).

Rekaman data seismik
Gambar 4. Rekaman data seismik

5. Koreksi statik

Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh topografi (elevasi shot dan receiver) sehingga shot point dan receiver seolah-oleh ditempatkan pada datum yang sama.

6. Dekonvolusi

Dekonvolusi dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi pengaruh ground roll, multiple, reverberation, ghost serta memperbaiki bentuk wavelet yang kompleks akibat pengaruh noise. Dekonvolusi merupakan proses invers filter karena konvolusi merupakan suatu filter. Bumi merupakan low pass filter yang baik sehingga sinyal impulsif diubah menjadi wavelet yang panjangnya sampai 100 ms. Wavelet yang terlalu panjang mengakibatkan turunnya resolusi seismik karena kemampuan untuk membedakan dua event refleksi yang berdekatan menjadi berkurang.

7. Analisis Kecepatan

Tujuan dari analisis kecepatan adalah untuk menentukan kecepatan yang sesuai untuk memperoleh stacking yang terbaik. Pada grup trace dari suatu titik pantul, sinyal refleksi yang dihasilkan akan mengikuti bentuk pola hiperbola. Prinsip dasar analisa kecepatan pada proses stacking adalah mencari persamaan hiperbola yang tepat sehingga memberikan stack yang maksimum (Gambar 5).

Stacking velocity
Gambar 5. Stacking velocity


8. Koreksi Dinamik/Koreksi NMO

Koreksi ini diterapkan untuk mengoreksi efek adanya jarak offset antara shot point dan receiver pada suatu trace yang berasal dari satu CDP (Common Depth Point). Koreksi ini menghilangkan pengaruh offset sehingga seolah-olah gelombang pantul datang dalam arah vertikal (normal incident) (Gambar 6).

Koreksi NMO
Gambar 6. Koreksi NMO: (a) belum dikoreksi (b kecepatan yang sesuai (c) kecepatan yang lebih rendah (d) kecepatan yang lebih tinggi (VAN DER KRUK, 2001)


9. Stacking

Stacking adalah proses penjumlahan trace-trace dalam satu gather data yang bertujuan untuk mempertinggi sinyal to noise ratio (S/N). Proses ini biasanya dilakukan berdasarkan CDP yaitu trace-trace yang tergabung pada satu CDP dan telah dikoreksi NMO kemudian dijumlahkan untuk mendapat satu trace yang tajam dan bebas noise inkoheren (Gambar 7).

Proses penjumlahan trace-trace dalam satu CDP (stacking)
Gambar 7. Proses penjumlahan trace-trace dalam satu CDP (stacking)

10. Migrasi

Migrasi adalah suatu proses untuk memindahkan kedudukan reflektor pada posisi dan waktu pantul yang sebenarnya berdasarkan lintasan gelombang. Hal ini disebabkan karena penampang seismik hasil stack belumlah mencerminkan kedudukan yang sebenarnya, karena rekaman normal incident belum tentu tegak lurus terhadap bidang permukaan, terutama untuk bidang reflektor yang miring. Selain itu, migrasi juga dapat menghilangkan pengaruh difraksi gelombang yang muncul akibat adanya struktur-struktur tertentu (patahan, lipatan) (Gambar 8).

Penampang seismik sebelum migrasi
Gambar 8(a). Penampang seismik sebelum migrasi; 
Penampang seismik setelah migrasi
Gambar 8(b). Penampang seismik setelah migrasi



Interpretasi Data Seismik

Tujuan dari interpretasi seismik secara umum menurut ANDERSON & ATINUKE (1999) adalah untuk mentransformasikan profil seismik refleksi stack menjadi suatu struktur kontinu/model geologi secara lateral dari subsurface (Gambar 9).
Penampang seismic
Gambar 9 (a). Penampang seismic


 Interpretasi seismic
Gambar 9 (b). Interpretasi seismic {A=Mannville(clastic); B=Wabamun(karbonat); C=Ireton(lempung); D=Duvemay(lempung); E=Cooking Lake(karbonat); F= Beaverhill(lempung); G=Leduk(reef)}


Sedangkan beberapa tujuan khusus dari interpretasi seismik menurut VAN DER KRUK (2001) adalah :

1. Pemetaan Struktur-Struktur Geologi

Untuk pemetaan struktur-struktur geologi pada data seismik, posisi horizon-horizon utama dan gangguan dipetakan dan bentuk serta posisi sesar diidentifikasi. Tujuannya adalah untuk memperoleh profil geologi dan untuk memperoleh kedalaman horizon serta gangguan.

2. Analisis Sekuen Seismik

Tujuan utama dari analisis sekuen seismik adalah :
• Mengidentifikasi batas-batas sekuen pada data seismik
• Menentukan sekuen pengendapan dalam waktu
• Menganalisis fluktuasi muka air laut

3. Analisis Fasies Seismik

Sekuen seismik dapat juga untuk menyelidiki karakteristik refleksi di dalam suatu sekuen, yang berhubungan dengan seismik fasies. Tidak hanya waktu sekuen sendimentasi yang diperoleh namun juga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan yang dapat menggambarkan tentang lingkungan pengendapannya.
Tujuan interpretasi seismik khusus dalam eksplorasi minyak dan gas bumi adalah untuk menentukan tempat-tempat terakumulasinya (struktur cebakan-cebakan)minyak dan gas. Minyak dan gas akan terakumulasi pada suatu tempat jika memenuhi tiga syarat, yaitu: (1) Adanya Batuan sumber (source rock), adalah lapisan-lapisan batuan yang merupakan tempat terbentuknya minyak dan gas, (2) Batuan Reservoir yaitu batuan yang permeabel tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi setelah bermigrasi dari batuan sumber, (3) Batuan Penutup, adalah batuan yang impermeabel sehingga minyak yang sudah terakumulasi dalam batuan reservoir akan tetap tertahan di dalamnya dan tidak bermigrasi ke tempat yang lain. Berikut adalah beberapa contoh cebakan-cebakan minyak dan gas bumi yang diperoleh dari data seismik (Gambar 10, 11 dan 12).

Cebakan Minyak Struktur Antiklin
Gambar 10. Cebakan Minyak Struktur Antiklin


Cebakan Minyak Pada Struktur Fault (sesar)
Gambar 11. Cebakan Minyak Pada Struktur Fault (sesar)

Cebakan Stratigrafi Minyak dan Gas
Gambar 12. Cebakan Stratigrafi Minyak dan Gas

Noise dan Data


Noise adalah gelombang yang tidak dikehendaki dalam sebuah rekaman seismik sedangkan data adalah gelombang yang dikehendaki. Dalam seismik refleksi, gelombang refleksilah yang dikehendaki sedangkan yang lainya diupayakan untuk diminimalisir.
rekaman data gelombang refleksi dan noise
rekaman dengan data gelombang refleksi dan noise 

Gambar diatas menunjukkan sebuah rekaman dengan data gelombang refleksi dan noise (gelombang permukaan / ground roll) dan gelombang langsung (direct wave).
Noise terbagi menjadi dua kelompok: noise koheren (coherent noise) dan noise acak ambient (random ambient noise).Contoh noise keheren: ground roll (dicirikan dengan amplitudo yang kuat dan frekuensi rendah), guided waves atau gelombang langsung (frekuensi cukup tinggi dan datang lebih awal), noise kabel, tegangan listrik (power line noise: frekuensi tunggal, mudah direduksi dengan notch filter), multiple (adalah refleksi sekunder akibat gelombang yang terperangkap). Sedangkan noise acak diantaranya: gelombang laut, angin, kendaraan yang lewat saat rekaman, dll.

Aplikasi Rekaman Seismik

  1. Rekaman data seismik gempa bumi (tektonik) dapat digunakan untuk menentukan pusat dan kedalaman gempa bumi yang bersangkutan.
  2. Pada gunung berapi dapat digunakan untuk memperkirakan jenis aktivitas gunung berapi tersebut, seperti gerakan magma, guguran lava padat, gejala-gejala akan terjadinya letusan dan lain-lain.
  3. Eksplorasi seismik dangkal diaplikasikan untuk eksplorasi batubara dan bahan tambang lainnya.
  4. Seismik dalam digunakan untuk eksplorasi daerah prospek hidrokarbon (minyak dan gas bumi).
  5. Seismik refleksi digunakan untuk menentukan lithologi batuan dan struktur geologipada kedalaman yang dalam.
  6. Seismik refraksi digunakan untuk lithologi dan struktur geologi yang dangkal.

Seismic Signatures dari Gunung Rainier, Washington

Berdasarkan hasil pemantauan selama 30 tahun, seismic signatures di bawah ini menggambarkan peristiwa umum yang menyebabkan getaran tanah di gunung api. Keseluruhan pola dari seismic signatures ini terdapat perbedaan amplitudo, frekuensi, dan durasi pada setiap rekaman. Debris flow memiliki seismic signatures dengan amplitudo kecil, frekuensi sedang-tinggi, serta durasi lama. Distant earthquake memiliki seismic signatures dengan amplitudo kecil, frekuensi lebih rendah dengan durasi yang lama. Pada Tectonic Earthquake near mount memiliki amplitudo gelombang P yang kecil,frekuensi sedang-tinggi, dan durasi sebentar. Sedangkan pada tectonic Earthquake beneath mount memiliki amplitudo gelombang P yang lebih besar, frekuensi sedang-tinggi, dan durasi sebentar. Rock falls dan Glacier-sliding memiliki pola tersendiri pada rekaman seismiknya. Seismic signatures pada setiap gunung api dapat berbeda-beda karena gunung api memiliki karakteristik magma dan morfologi yang berbeda. Seismic signatures pada gunung api yang satu tipe pada umumnya akan sama pada peristiwa yang sama.
seismic signatures
seismic signatures
Perekam seismik dipergunakan untuk mengidentifikasi kedalaman dasar samudera dan konfigurasi sedimen serta perlapisan batuannya. Pada rekaman grafik ini, kapal riset baru melewati sebuah lembah samudera.
rekaman grafik seismik
rekaman grafik seismik
Hasil Rekaman seismik dasar laut perairan selatan Yogyakarta
Hasil Rekaman seismik dasar laut perairan selatan Yogyakarta
Hasil analisis rekaman seismik di perairan P. Batam di bawah ini menunjukkan adanya bekas-bekas penambangan pasir laut. Pada bagian atas memperlihatkan bagian yang terkupas akibat penambangan dengan peralatan yang mempunyai daya hisap yang besar.
rekaman seismik di perairan P. Batam
rekaman seismik di perairan P. Batam
Penampang seismik dan interpretasinya
Penampang seismik dan interpretasinya
Seismik dan Interpretasinya
Seismik dan Interpretasinya
Dari hasil penafsiran rekaman seismik di atas diperoleh informasi bahwa bagian permukaan dasar laut berupa struktur sedimen bergelombang (sand waves) seperti terlihat pada gambar 2, slump dan sesar (gambar 3). Adanya struktur sedimen sand waves menunjukkan bahwa material yang ada di dasar perairan tersebut berukuran pasir dan arus dasar laut cukup kuat.
hasil penafsiran rekaman seismic
hasil penafsiran rekaman seismic 
Dari hasil penafsiran rekaman seismic di lintasan L-21, diperoleh 2 (dua) runtunan yaitu runtunan A dan B (Gambar 3). Morfologi dasar laut mempunyai kemiringan lereng yang sangat curam ke arah utara. (Astawa , drr., 1994) Dengan memperhatikan gambaran pantulan (intenal reflector) maka runtunan A, yang bentuknya agak kacau (semi chaotik), diduga tersusun oleh sedimen dengan lingkungan pengendapan energi agak tinggi atau pada lingkungan darat (fluvial). Sedimennya disusun oleh material dengan ukuran butir tidak seragam (heterogen). Kontak antara runtunan A dengan B, merupakan kontak ketidakselarasan berupa kontak onlap. Runtunan A memperlihatkan gambaran pantulan agak sejajar pada bagian atas dan semakin ke bawah menjadi pantulan transparan (free reflector). Bila disebandingkan dengan geologi darat, maka runtunan A diduga merupakan batuan volkanik.
Runtunan B memperlihatkan gambaran pantulan sejajar dan kuat (strong reflector). Diduga runtunan B ini merupakan batuan sedimen dengan lingkungan pengendapan energi agak tinggi dengan besar butir didominasi oleh ukuran kasar. Runtunan B merupakan sedimen kuarter dimana proses pengendapannya masih berlangsung hingga kini. Pada daerah slope break yaitu daerah dimana terjadi perubahan dasar laut dari datar ke bagian yang mempunyai kemiringan lereng terjal banyak dijumpai diapir. Hal tersebut sangat umum dijumpai pada daerah yang mempunyai kemiringan lereng terjal. Di daerah yang mempunyai kemiringan lereng terjal terdapat patahan patahan , hal ini terjadi karena daerah telitian terletak di cekungan belakang busur (back-arc basin) dan dipengaruhi oleh tektonik yang masih aktif. Struktur yang dapat terlihat dari rekaman seismik adalah sesar normal dengan kelurusan barat-timur.
Penafsiran rekaman Seismik di lintasan L1
Penafsiran rekaman Seismik di lintasan L1
Penafsiran rekaman seismik di lintasan L2
Penafsiran rekaman seismik di lintasan L2
Rekaman seismik yang ditafsirkan pada gambar di atas adalah rekaman seismik di lintasan L1 (Gb. 2), lintasan L2 (Gb. 3) dan lintasan L3 (Gb. 4).
Rekaman seismik di lintasan L1 dengan arah selatan utara memperlihatkan adanya terobosan batuan yang muncul di atas dasar laut pada kedalaman sekitar 20 meter. Adapun tingginya dari dasar laut sekitar 18 meter. Terobosan batuan tersebut diduga merupakan intrusi vulkanik. Di bagian kiri dan kanan intrusi vulkanik tersebut dapat diamati pola dari pengendapan sedimen. Adapun gambaran pantulannya bervariasi yaitu dari mulai bebas pantul, kaotik sampai sejajar. Gambaran pantulan sejajar berselang seling dari lemah sampai tegas. Sedangkan batas runtunannya dibatasi oleh ketidakselarasan, onlap dan pepat erosi. Gambaran –gambaran pantulan tersebut sangat erat kaitannya dengan pola sedimentasi yang dipengaruhi oleh sistem pengangkatan dari intrusi vulkanik. Struktur geologi yang dapat diamati disekitar intrusi vulkanik tersebut adalah adanya sesar-sesar. Sesar sesar tersebut diduga terus berkembang.
Rekaman seismik di lintasan L2 dengan arah timur barat memperlihatkan juga adanya intrusi vulkanik. Di lintasan ini tampak intrusi vulkanik tidak terlalu menonjol seperti di lintasan L1. Intrusi vulkanik di lintasan ini berada pada kedalaman laut sekitar 37 meter. Gambaran pantulannya hampir sama dengan gambaran pantulan di lintasan L1 yaitu sejajar, kaotik, bebas pantul dan agak bergelombang. Batas runtunannya ditandai dengan ketidak selarasan , onlap dan pepat erosi. Di lokasi ini tampak jelas adanya struktur geologi yang berkembang yaitu berupa sesar. Sesar sesar tersebut umumnya berada di bagian tubuh vulkanik.

DAFTAR PUSTAKA

http://agfi.staff.ugm.ac.id/blog/index.php/2008/11/transformasi-paket-wavelet-dekomposisi-wavelet-dan-korelasi-pada-data-seismik-gn-merapi-jawa-indonesia/
http://asyafe.wordpress.com/category/all-about-seismic/
http://earthmax.wordpress.com/2010/02/21/pemantauan-seismisitas-gunung-api/
http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2007/06/pengolahan-data-seismik.html
http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2007/06/rekaman-seismik-seismic-record.html
http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2008_02_01_archive.html
http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2010/11/seismik-refraksi.html
http://rovicky.wordpress.com/2006/09/27/penampakan-mud-volcano-dalam-rekaman-penampang-seismik/
FMIPA UNIMED

Judul : Manifestasi Gelombang Seismik dalam rekaman Lapangan
Disusun Oleh : Eka Putri Wulandari | Sri wahyuni Batubara
Technorati Tags: ,,,,Sains,Fisika

Comments

  1. Terimakasih atas ilmunya... Alhamdulilah sangat membantu saya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah. Terimakasih kembali gan telah berkunjung dan berkomentar. Senang bisa membantu :-d

      Delete

Post a Comment

Comment & suggestion....

Popular posts from this blog

Pengukuran Atenuasi

A. Atenuasi Atenuasi adalah menurunnya level daya sinyal akibat pengaruh jarak transmisi. Untuk menghindari hal ini, jarak media transmisi dibatasi sehingga pengaruh atenuasi tidak banyak mengganggu kualitas sinyal. Pengaruh atenuasi terhadap sinyal berbeda-beda antar satu media transmisi dengan lainnya. Untuk mengatasi atenuasi, bisa juga digunakan perangkat seperti amplifier atau repeater, yang berfungsi meningkatkan kembali level daya sinyal.
Untuk guided media, atenuasi adalah fungsi yang lebih kompleks dari jarak dan pada umumnya mengikuti fungsi logarithm. Sehingga biasanya dinyatakan sebagai jumlah desibel konstan per unit jarak. Atenuasi membawakan tiga pertimbangan untuk membangun transmisi : a. Sinyal yang diterima harus cukup kuat sehingga arus elektronik pada receiver bisa mendeteksi sinyal b. Sinyal harus mempertahankan level yang lebih tinggi dibanding derau yang diterima tanpa error c. Atenuasi merupakan fungsi frekuensi yang meningkat
Masalah pertama dan kedua d…

Umpan Balik Negatif

UMPAN BALIK NEGATIFSistem umpan balik negatif adalah suatu sistem dimana sinyal keluaran dari penguat dikembalikan lagi ke masukan penguat tersebut, sehingga sinyal keluaran bergabung dengan sinyal masukan. Dan sinyal keluaran yang dikembalikan mempunyai fase yang berlawanan dengan sinyal. Macam-Macam Umpan Balik Negatif: Seri - Parallel (Voltage Controlled Voltage Source/VCVS)
Adalah rangkaian umpan balik negatif yang mempunyai keluaran berupa tegangan yang dikendalikan oleh masukan berupa tegangan. Tipe dari penguat ini adalah penguat tegangan. Penguat ini idealnya mempunyai impedansi masukan tak berhingga dan impedansi keluaran nol. Parallel - Parallel (Current Controlled Voltage Source/ICVS)
Adalah rangkaian umpan balik negatif yang mempunyai keluaran berupa tegangan yang dikendalikan oleh masukan berupa arus. Tipe dari penguat ini adalah penguat transresistansi. Penguat ini idealnya mempunyai impedansi masukan nol dan impedansi keluaran nol. Seri - Seri (Voltage Controlled Cu…

Penjalaran Gelombang

DEFINISI DAN KLASIFIKASI GELOMBANGa. Definisi Gelombang Gelombang adalah getaran yang merambat gerak gelombang dapat dipandang sebagai perpindahan momentum dari suatu titik di dalam ruang ke titik lain tanpa perpindahan materi Rumus dasar gelombang adalah :

Dengan v = kecepatan rambat l = Panjang gelombang b. Klasifikasi gelombang Dalam kenyataannya pengklasifikasian gelombang sangat beragam, ada yang menurut arah rambatnya, medium perambatannya, menurut dimensi penyebaran rambatannya dll. Gelombang menurut arah perambataanya: Gelombang longitudinal Gelombang dengan arah gangguan sejajar dengan arah penjalarannya. Contoh gelombang longitudinal adalah gelombang bunyi, gelombang bunyi ini analog dengan pulsa longitudinal dalam suatu pegas vertikal di bawah tegangan dibuat berosilasi ke atas dan ke bawah disebuah ujung, maka sebuah gelombang longitudinal berjalan sepanjang pegas tersebut, koil – koil pada pegas tersebut bergetar bolak –balik di dalam arah di dalam mana gangguan berjal…